Laman

Sabtu, 04 Februari 2012

ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN KESEHATAN


III
ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN KESEHATAN

Tujuan pembangunan pada hakikatnya adalah untuk mencapai ‘kesejahteraan bagi semua’, yakni terpenuhinya hak setiap orang untuk hidup sehat, hingga dapat meraih hidup yang produktif dan berbahagia.
Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu diupayakan kegiatan dan strategi dalam setiap aspek kehidupan. Bukan saja aspek kesehatan, tetapi diperlukan strategi pemerataan kesehatan dengan mendayagunakan segenap potensi yang ada, baik di jajaran kesehatan, non kesehatan maupun masyarakat sendiri, guna mengendalikan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor lain yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Derajat kesehatan meliputi kondisi sehat maupun sakit. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal bukan hanya berbicara mengenai pengobatan, perbaikan gizi, personal hygiene, sanitasi, PHBS, dll, tetapi juga berbicara mengenai hal-hal yang ikut berperan didalamnya yang bisa mempengaruhi pengobatan, perbaikan gizi, personal hygiene, sanitasi, PHBS, dll. Seperti ekonomi, social, budaya, lingkungan, pemerintahan, dll.
Mengingat kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan, konsep kesehatan sekarang ini, tidak saja berorientasi pada aspek klinis dan obat-obatan, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan kesehatan dan kemasyarakatan, yaitu seperti ilmu sosiologi, antropologi, psikologi, perilaku, dan lain-lain.
Kegunaan ilmu-ilmu tersebut dalam kesehatan dan kemasyarakatan adalah sebagai penunjang peningkatan status kesehatan masyarakat. Salah satu cabang dari sosiologi dan antropologi adalah sosial budaya dasar, yang membahas tentang kebudayaan dan unsur-unsur yang terkait di dalamnya.
Unsur-unsur kebudayaan adalah meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan serta kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat-masyarakat, yang merupakan hasil budi atau akal manusia. Dalam mengatasi masalah-masalah lebih berorientasi pada adaptasi dan pelaksanaan strategi terhadap keadaan social.
Strategi adaptasi social budaya yang melahirkan system-sistem medis, tingkah laku dan bentuk-bentuk kepercayaan yang berlandaskan budaya, yang timbul sebagai respon terhadap ancaman-ancaman yang disebabkan oleh penyakit. Dunn “pola-pola dari pranata-pranata social dan tradisi-tradisi budaya yang menyangkut perilaku yang sengaja untuk meningkatkan kesehatan, meskipun hasil  dari tingkah laku khusus tersebut belum tentu menghasilkan kesehatan yang baik” (Dunn 1976 : 135)
Penyakit, dengan rasa sakit dan penderitaannya, merupakan kondisi manusia yang dapat diramalkan : dan merupakan gejala biologis maupun kebudayaan yang bersifat universal. Individu yang mengidap penyakit infeksi menghadapkan rekan-rekannya pada epidemic penyakit, dan sejarah penuh dengan kasus-kasus musnahnya populasi manusia, sewaktu menderita cacar, TBC, pes mengalami kontak dengan orang-orang yang semula belum mengenal penyakit-penyakit tsb.
Dalam usaha melindungi diri dari berbagai ancaman tersebut, manusia kadang kala mengikuti pola hewan mamalia, menjauhkan diri atau lari dari si sakit. Pada manusia, mengucilkan penderita, melakukan isolasi. Hal ini akan menyebabkan penderita merasa dihukum atas keadaan yang dia sendiri tidak kehendaki, sakit yang diderita terjadi karena takdir yang dijatuhkan kepadanya. Menjatuhkan hukuman mati secara social kepada mereka sebelum mati secara fisik (Sigerist 1951 : 148)
Sejak zaman wilayah afdeling mandar (wilayah mandar ketika saman belanda), ada wilayah yang dikenal perkampungan leprosy, yaitu tempat penampungan (isolasi) penderita kusta (lepra) baik yang berada dalam wilayah afdeling maupun dari luar wilayah. Seorang suami meninggalkan istrinya yang terindikasi menderita kusta. Anggota keluarga yang lain dilarang kontak dengan salah seorang anggota keluarga yang menderita penyakit.  
Karena budaya dan hubungan social, dengan segala kemampuannya manusia lebih sering berusaha untuk menyembuhkan si sakit. Karena sifat demikian, manusia mau tidak mau senantiasa menaruh perhatian terhadap masalah-masalah kesehatan serta usaha mempertahankan kelangsungan hidup dan sejauh batas-batas pengetahuannya, mencari penyelesaian terhadap masalah-masalah penyakit (Rubin 1960 : 785).
Perhatian ini bukan semata-mata manusiawi, walaupun pada sebagian besar masyarakat ada usaha untuk merawat yang sakit, melainkan lebih merupakan suatu bentuk tingkah laku adatif baru yang didasari oleh logika atau juga rasa kasih.    
Di negara-negara maju, terdapat unsur-unsur kebudayaan yang dapat menunjang tingginya status kesehatan masyarakat seperti pendidikan yang optimal, keadaan sosial-ekonomi yang tinggi, dan kesehatan lingkungan yang baik. Dengan demikian, pelayanan kesehatan menjadi sangat khusus sehingga dapat memenuhi kebutuhan klien.
Sebaliknya, di negara berkembang seperti Indonesia, unsur-unsur kebudayaan yang ada kurang menunjang pencapaian status kesehatan yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan, pendidikan yang minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.
Mengingat keadaan tersebut, kita perlu memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat dalam kaitannya dengan keadaan kesehatan di Indonesia. Jadi melihat penyakit atau masalah kesehatan bukan saja dari sudut gejala, sebab-sebabnya, wujud penyakit, obat dan cara menghilangkan penyakit, tetapi juga bagaimana hubungan sosial budaya, geografi, demografi, dan persepsi masyarakat dengan masalah yang sedang dihadapi.
Melihat luasnya masalah kesehatan yang dihadapi, maka bidan sebagai petugas kesehatan harus mempelajari ilmu-ilmu lain yang terkait dengan kesehatan. Sehingga pelayanan yang diberikan memberikan hasil yang optimal.
Di bawah ini kita dapat melihat bagaimana hubungan antara sosial budaya dengan pembangunan kesehatan, khususnya pembangunan kesehatan masyarakat.
 A.    Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Kesehatan Masyarakat
Tantangan berat yang masih dirasakan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah. Selain masalah tersebut, masalah lain yang perlu diperhatikan yaitu berkaitan dengan sosial budaya masyarakat, misalnya tingkat pengetahuan yang belum memadai terutama pada golongan wanita, kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, perilaku, dan kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Social budaya masyarakat yang merupakan hasil budi dan akal manusia yang dilandasi oleh pengalaman, sehingga budaya masyarakat bila dikaitkan dengan kesehatan, ada yang merugikan kesehatan dan ada pula yang menguntungkan kesehatan. Yang menguntungkan dan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan, yaitu semangat gotog royong dan kekeluargaan, serta sikap musyawarah dalam mengambil keputusan.
Pembangunan dalam suatu negara selain berdampak positif juga menimbulkan hal-hal negatif seperti timbulnya daerah kumuh (slum area) di perkotaan akibat pesatnya urbanisasi, polusi karena pesatnya perkembangan industri, banyak ibu-ibu karier yang tidak dapat mengasuh dan memberikan ASI secara optimal kepada anaknya, masalah kesehatan jiwa yang menonjol dan penyalahgunaan obat. Perkembangan penduduk dan pembangunan akan menghasilkan berbagai macam sampah yang dapat mengganggu kesehatan.
Masalah-masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan aspek sosial budaya dapat dibedakan menjadi:
1.      Kesehatan Ibu dan Anak
Berdasarkan survei rumah tangga (SKRT) pada tahun 1986, angka kematian ibu maternal berkisar 450 per 100.000 kelahiran hidup atau lebih dari 20.000 kematian pertahunnya.
Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator kesehatan ibu yang meliputi ibu dalam masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Angka tersebut dikatakan tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.
Dari hasil penelitian di 12 rumah sakit, dikatakan bahwa kehamilan merupakan penyebab utama kematian ibu maternal, yaitu sebesar 94,4% dengan penyebabnya, yaitu pendarahan, infeksi, dan toxaemia (*)%). Selain menimbulkan kematian, ada penyebab lain yang dapat menambah resiko terjadinya kematian yaitu Anemia gizi pada ibu hamil, dengan Hb kurang dari 11gr%.
Angka kematian bayi pada akhir pelita V masih cukup tinggi, yaitu 58 per seribu kelahiran hidup. Sekitar 38% penyebab kematian bayi adalah akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu tetanus. Angka bayi lahir hidup dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah 8,2 %.
Angka kematian balita masih  didapatkan sebesar 10,,6 per 1000 anak balita. Seperti  halnya dengan bayi sekitar 31% penyebab kematian balita adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yaitu infeksi saluran pernafasan, polio, dan lain-lain.
Selain angka kematian, angka kelahiran dan angka kesuburan masih dirasakan pula sebagia masalah kesehatan ibu dan anak. Angka kelahiran kasar didapatkan berkisar antara 26-32 per 1000 penduduk dan angka kesuburan sebesar 3,49.
Masih tingginya angka kematian dan kesuburan di Indonesia berkaitan erat dengan faktor sosial budaya masyarakat, seperti tingkat pendidikan penduduk, khususnya wanita dewasa yang masih rendah, keadaan sosial ekonomi yang belum memadai, tingkat kepercayaan masyarakat tergadap pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang masih rendah dan jauhnya lokasi tempat pelayanan kesehatan dari rumah-rumah pendudukkebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat dan perilaku masyarakat yang kurang menunjang dan lain sebagainya.
Tingkat pendidikan terutama pada wanita dewasa yang masih rendah, mempunyai pengaruh besar terhadap masih tingginya angka kematian bayi. Berdasarkan survei rumah tangganya (SKRT) pada tahun 1985, tingkat buta huruf pada wanita dewasa adalah sebesar 25,7%. Rendahnya tingkat pendidikan dan buta huruf pada wanita menyebabkan ibu-ibu tidak mengetahui tentang perawatan semasa hamil, kelahiran, perawatan bayi dan semasa nifas, tidak mengetahui kapan ia harus datang ke pelayanan kesehatan, kontrol ulang, dan sebagainya.
Menurut hasil survei rumah tangga, tahun 1986  sebanyak 54% ibu hamil telah memeriksakan dirinya, dengan frekuensi kunjungan rata-rata 3,17 kali. Pengkajian KB-Kestahun 1986 tentang pemanfaatan tempat pemeriksaan menunjukkan yaitu Puskesmas 59,7%, fasilitas swasta 28,9%, sedangkan Posyandu 11,2%. Namun manfaat Posyandu untuk imunisasi bayi sudah cukup tinggi yaitu 60,9%. Rendahnya pemanfaatan Posyandu untuk pemeriksaan kehamilan disebabkan karena tidak tersedianya ruangan yang tertutup atau memadai.
Hasil survei rumah tangga tahun 1986, tentang angka imunisasi didapatkan: untuk imunisasi DPT 3 sebesar 34,9%, polio 31,6%, TT2 22,7%, BCG 75%. Bila dilihat dari data di atas, cakupan TT2 lebih rendah bila dibandingkan dengan cakupan pemeriksaan kehamilan. Cakupan TT2 yang rendah bila dibandingkan dengan cakupan pemeriksaan ibu hamil, disebabkan petugas KIA belum mendapatkan instruksi atau kesempatan untuk dapat memberikan imunisasi TT2.
Kebiasaan-kebiasaan adat istiadat dan perilaku masyarakat sering kali merupakan penghalang atau penghambat terciptanya pola hidup sehat di masyarakat. Perilaku, kebiasaan, dan adat istiadat yang merugikan seperti misalnya:
·         Ibu hamil dilarang tidur siang karena takut bayinya besar dan akan sulit melahirkan,
·         Ibu menyusui dilarang makan makanan yang asin, misalnya: ikan, telur,
·         Ibu habis melahirkan dilarang tidur siang,
·         Bayi berusia 1 minggu sudah boleh diberikan nasi atau pisang agar mekoniumnya cepat keluar,
·         Ibu post partum harus tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk karena takut darah kotor naik ke mata,
·         Ibu yang mengalami kesulitan dalam melahirkan, rambutnya harus diuraikan dan persalinan yang dilakukan di lantai, diharapkan ibu dapat dengan mudah melahirkan.
·         Bayi baru lahir yang sedang tidur harus ditemani dengan benda-benda tajam.

Dikatakan merugikan karena beberapa hal tersebut di atas justru dibutuhkan dalam rangka peningkatan kondisi kesehatan.
Tingkat kepercayaan masyarakat kepada terhadap petugas kesehatan, dibeberapa wilayah masih rendah. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut yang sedemikian tinggi, sehingga ia lebih senang berobat dan meminta tolong kepada ibu dukun. Petugas kesehatan pemerintah dianggap sebagai orang baru yang tidak mengenal masyarakat di wilayahnya dan tidak mempunyia kharismatik.
Selain faktor tersebut, rendahnya kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan dikarenakan jauhnya lokasi pelayanan kesehatan dengan rumah penduduk sehingga walaupun masyarakat sudah mempunyai kemauan memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan, namun karena jauh dan harus segera mendapatka pertolongan, akhirnya ia berobat ke dukun yang dekat lokasinya. Keadaan ini disikapi oleh pemerintah dengan berupaya membangun fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut, menempatkan tenaga kesehatan disertai dengan peralatan yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan, peningkatan kualitas pelayanan dengan meningkatkan kemampuan petugas melalui pelatihan maupun pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. 
2.      Keluarga Berencana
Berdasarkan hasil SUPAS 1985, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 164 juta jiwa. Diperkirakan pada akhir tahun 1987 menjadi 172,3 juta jiwa dan akan menjadi 182,7 juta jiwapada tahun 1990. Pada tahun 1985, pertumbuhan penduduk sekitar 2,15% pertahun.
Pada umumnya, masalah-masalah yang berkaitan dengan fertilitas dan laju pertumbuhan penduduk disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang bersifat kaku. Mereka masih mempunyai pendapatan bahwa anak adalah sumber rezeki, atau banyak anak banyak rezeki. Anak adalah tumpuan di hari tuanya. Mereka tidak menyadari bahwa keterbatasan orang tua merupakan ancaman masa depan bagi si anak.
Selain itu, faktor agama juga sangat menentukan keberhasilan pengendalian penduduk. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya menggunakan agama sebagai pandangan hidup, misalnya islam, nasrani, mereka akan menentang program pengendalian penduduk berupa penggunaan alat kontrasepsi. Mereka menganggap bahwa dengan menggunakan alat kontrasepsi, berarti membunuh anak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan-keadaan ini merupakan tantangan bagi pelaksana program Keluarga Berencana.
Berdasarkan hasil pengkajian KB-Kes tahun 1986, diperoleh bahwa tempat pelayanan KB yang banyak dikunjungi oleh para akseptor KB adalah Puskesmas, yaitu sebesar 50,8%, Posyandu 23%, swasta 13,2%, dan Pos KB desa/kader 13%. Dari hasil tersebut, ternyata pemanfaatan Posyandu oleh masyarakat berada di urutan kedua setelah Puskesmas. Hal ini disebabkan oleh siklus pil tidak selalu sama dengan waktu bukanya di Posyandu, sehingga akseptor lebih suka datang ke Puskesmas yang buka setiap hari. Keadaan ini perlu  dijadikan bahan pemikiran, metoda apa yang tepat sehingga pelayanan di posyandu tersebut yanglebih dekan dengan masyarakat dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
3.      Gizi
Jika kita berbicara tentang gizi, maka yang terpikir oleh kita adalah semua makanan yang kita makan. Ditinjau dari aspek sosial budaya, Koentjaraningrat menyebutkan bahwa makanan yang kita makan dapat dibedakan menjadi dua konsep, yaitu nutrimen dan makanan. Nutrimen adalah suatu konsep biokimia yang berarti zat-zat dalam makanan yang menyebabkan bahwa individu yang memakannya dapat hidup dan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Makanan dikatakan sebagai suatu konsep kebudayaan, yaitu merupakan bahan-bahan yang telah diterima dan diolah secara budaya untuk dimakan, sesudah melalui proses penyiapan dan penyuguhan yang juga secara budaya, agar dapat hidup dan berada dalam kondisi kesehatan yang baik.
Kesukaan makan seseorang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makannya sejak kanak-kanak. Keluarga dalam hal ini sangat menentukan kesukaan anak terhadap makanan tertentu. Makanan sebagai salah satu aspek kebudayaan sering ditentukan oleh keadaan lingkungan, misalnya wilayah yang sebagian besar memiliki pohon kelapa, maka jenis makanan yang dimakan banyak yang menggunakan santan atau kelapa, sedangkan wilayah yang sebagian besar terdiri dari perkebunan, jenis dan komposisi makanan banyak yang terbuat dari sayur-sayuran atau dikenal dengan lalapan.
Rasa makanan yang disukai oleh suatu masyarakat umumnya bervariasi. Ada sekelompok masyarakat yang menyukai makanan yang rasanya pedas, manis, asin, dan sebagainya. Kelompok masyarakat yang menyukai makanan yang rasanya manis dapat ditemukan di daerah-daerah di Pulau Jawa, sedangkan makanan yang rasanya pedas dapat ditemukan di daerah-daerah Sumatera dan Sulawesi. Sehingga sering kali masyarakat tertentu yang datang ke suatu wilayah yang berbeda dengan jenis makanan yang biasa ia makan, ia perlu mengadakan penyesuaian terhadap makanan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengganti makanan yang biasa ia makan dengan jenis makanan yang baru ia kenal.
Distribusi makanan dalam keluarga tidaklah sama dengan keluarga lain. Ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi oleh anggota keluarga. Seorang ayah yang dianggap sebagai pencari nafkah keluarga, harus diberikan makanan yang ‘lebih’ dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Kata lebih yang dimaksud meliputi kualitas, kuantitas, dan frekuensi makan. Ibu hamil tidak bisa makan dengan sebebasnya, tapi mempunyai keterbatasan tertentu, ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh dimakan oleh ibu hamil. Tamu dianggap sebagai raja, sehingga diberikan makanan yang tidak biasanya. Anak mempunyai makanan khusus seperti bubur nasi dan sebagainya. Sedangkan pembantu rumah tangga bisasnya diberikan makanan yang rendah kualitasnya.
Berdasarkan laporan penelitian gizi pada tahun 1979, di Indonesia masih terdapat masalah-masalah gizi. Masalah gizi tersebut bukan hanya menyangkut gejala kelaparan dan kekurangan kalori-kalori, tetapi juga menyangkut masalah kelebihan gizi.
Masalah kekurangan gizi bukan saja disebabkan oleh faktor sosial-ekonomi masyarakat, namun berkaitan pula dengan faktor sosial-budaya masyarakat setempat. Seperti misalnya persepsi masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan masih belum sesuai. Menurut mereka, yang disebut dengan makan adalah makan sampai kenyang, tanpa memperhatikan jenis, komposisi, dan mutu makanan, pendistribusian makanan dalam keluarga tidak berdasarkan debutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga, namun berdasarkan pantangan-pantangan yang harus diikuti oleh kelompok khusus, misalnya ibu hamil, bayi, balita, dan sebagianya.
Di samping hal tersebut, pengetahuan keluarga khususnya ibu memegang peranan yang cukup penting dalam pemenuhan gizi keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang makanan yang mengandung nilai gizi tinggi, cara pengolahan, cara penyajian makanan, dan variasi makanan yang dapat menimbulkan selera makan anggota keluarganya, sangat berpengaruh dalam status gizi keluarga. Oleh karena itu, ibu lah sasaran utama dalam usaha-usaha perbaikan gizi keluarga.
Masalah kelebihan gizi, umumnya diderita oleh sekelomppok masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup, disamping faktor pola makan terhadap jenis makanan tertentu, juga ditentukan oleh faktor herediter.
Dalam kaitannya dalam kesehatan ibu dan anak serta kesehatan masyarakat, masalah gizi mempunyai pengaruh terhadap timbulnya penyakit-penyakit, misalnya anemia, pre-eklampsia, diabetes melitus, perdarahan, infeksi, dan sebagianya.
B.     Peran Bidan dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.
Menurut Departemen Kesehatan RI, fungsi bidan di wilayah kerjanya adalah sebagai berikut:
1.     Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumah-rumah, mengenai persalinan, pelayanan keluarga berencana, dan pengayoman medis kontrasepsi.
2.     Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, dengan melakukan penyuluhan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan setempat.
3.      Membina dan memberikan bimbingan teknis kepada kader serta dukun bayi.
4.      Membina kelompok dasa wisma di bidang kesehatan.
5.      Membina kerja sama lintas program, lintas sektoral, dan lembaga swadaya masyarakat.
6.      Melakukan rujukan medis maupun rujukan kesehatan ke fasilitas kesehatan lainnya.
7.      Mendeteksi dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian kontrasepsi serta adanya penyakit-penyakit lain dan berusaha mengatasi sesuai dengan kemampuannya.
Melihat dari luasnya fungsi bidan tersebut, aspek sosial-budaya perlu diperhatikan oleh bidan. Sesuai kewenangan tugas bidan yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya, telah diuraikan dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IX/1980 yaitu: Mengenai wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem pemerintahan desa dengan cara:
1.      Menghubungi pamong desa untuk mendapatkan peta desa yang telah ada pembagian wilayah pendukuhan/RK dan pembagian wilayah RT serta mencari keterangan tentang penduduk dari masing-masing RT.
2.      Mengenali struktur kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, LSM, karang taruna, tokoh masyarakat, kelompok pengajian, kelompok arisan, dan lain-lain.
3.      Mempelajari data penduduk yang meliputi:
·         Jenis kelamin
·         Umur
·         Mata pencaharian
·         Pendidikan
·         Agama
4.      Mempelajari pata desa
5.      Mencatat jumlah KK, PUS, dan penduduk menurut jenis kelamin dan golongan umur.
Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara efektif, bidan harus mengupayakan hubungan yang efektif dengan masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan hubungan yang efektif adalah komunikasi. Kegiatan bidan yang pertama kali harus dilakukan bila datang ke suatu wilayah adalah mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh bidan agar dirinya dikenal oleh masyarakat ialan ia harus mampu mempromosikan dirinya dengan menampilkan kepribadian sesuai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, memahami bahwa masyarakat merupakan bagian dari dirinya, sehingga bidan memiliki kharismatik bagi masyarakat di wilayah kerja. Apabila masyarakat sudah menanggap bahwa bidan adalah orang yang patut dicontoh (role model), maka ia akan melaksanakan hal-hal yang diajarkan dan dianjurkan oleh bidan.
Untuk dapat menampilkan kepribadian yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku, bidan terlebih dahulu harus mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA  :
1.    Edberg, Mark. Buku Ajar Kesehatan Masyarakat Teori Sosial & Perilaku (terjemahan), EGC, Jakarta, 2007
2.    Foster/Anderson, Antropologi Kesehatan, UI-Press, Jakarta, 1986.
3.    Herimantom, drs. M.Pd. M.Si. dan Winarno, S.Pd. M.Si. Ilmu Sosial & Budaya Dasar, Bumi Aksara, Jakrat, 2008.
4.    Ismawati, S. Cahyo, dkk. Posyandu & Desa Siaga Panduan untuk Bidan & Kader, Nuha Medika,  Yogjakarta, 2010.
5.    Koentjaraningrat, Prof. Dr. Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta, 2009.
6.    Muzaham, Fauzi. Sosiologi Kesehatan, UI-Press, Jakarta, 1995
7.    Padraig O Luanaigh dan Cindy Carlson, Ilmu Kesehatan Masyarakat untuk Mahasiswa Kebidanan (terjemahan), EGC, Jakarta, 2006
8.    Rajab, Wahyu. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan, EGC, Jakarta, 2009
9.    Soemowinoto, sarewoko, Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta, 2008
10.    Tri Prasetyo, Joko. Drs. Dkk. Ilmu Budaya dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 2009
11.     

1 komentar:

  1. Bantu buat Kartu Kredit dan Kta BANK ANZ 5-500 jt di manapun anda berada di seluruh pelosok nusantara dana instant tanpa jaminan 100% berkas aman cukup fc ktp.slip gaji/skp kartu kredit limit min 5 jt usia 1 th npwp dan cover tabungan . khusus karyawan gaji min 5 jt perbulan. proses maks 10 hari kerja.bunga 1.5%-1.89%. tenor sampai 5 tahun bila berminat hub chairul sarto utomo via sms telp 0852293...48635. 085712639751 whatshapp 08883932980 fb chairul ichsan buana
    alamat kantor Jl. Pandanaran No. 47
    Semarang 50243 GEDUNG BANK ANZ LANTAI DUA
    DANA TUNAI dan kartu kredit bank anz PENUHI SEGALA KEBUTUHAN ANDA , KARYAWAN ATAU OWNER BUAT NAMBAH MODAL USAHA,PERNIKAHAN,PENDIDIKAN,RENOVASI RUMAH DLL PROSES MUDAH,CEPAT MAKSIMAL 10 HARI KERJA DANA LANGSUNG DI TRANSFER KE REKENING ANDA DIMANAPUN ANDA BERADA DI SELURUH PELOSOK NUSANTARA
    ALAMAT KANTOR DI GEDUNG BANK ANZ SEMARANG untuk divisi pemasaran kami bertempat tinggal di JL lamper sari 14 no 10 semarang

    MARKETING CHAIRUL SARTO UTOMO
    info detail bisa lihat di danaimpiankita@blogspot.com

    BalasHapus