TUGAS KEBID ISBD SMT. III
( contoh kerangka tugas )
Adat istiadat / Bidaya / Kebiasaan yang ada di masyarakat berkaitan dengan kehamilan dan persalknan.
I. Yang dianjurkan
a. ……
b. ……
c. dst
II. Yang dilarang / tidak diperbolehkan
a. …..
b. ….
c. Dst
PENJELASAN / URAIAN
I. YANG DIANJURKAN
a. ……….
i. Alasan masyarakat
………………………………………………………..........................................................
…………………………………………………………………………………. dst
ii. Tinjauan ilmiah
………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………... dst
b. ……….
c. dst
II. YANG DILARANG / TIDAK DIPERBOLEHKAN
a ……….
i. Alasan masyarakat
………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………... dst
ii. Tinjauan ilmiah
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………… dst
b. ……….
c. dst
Selasa, 02 Oktober 2012
Selasa, 05 Juni 2012
PENANGGULANGAN BENCANA KEPERW
PENANGGULANGAN BENCANA
POKOK BAHASSAN
a. Konsep Bencana
b. Macam bencana
c. Penemuan kasus
d. Pengorganisasian
e. Strategi Penanggulangan
f. Peranan Perawat dl Penanggulangan
Konsep Bencana
• Masalah
kesehatan yang dihadapi ada yang bersifat biasa dan adapula yang bersifat darurat
• Masalah
kesehatan darurat cenderung makin meningkat dan makin beragam
• Dengan
pendekatan epidemiologi, minimal dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan untuk
menghindari
keadaan menjadi lebih buruk
Ruang lingkup kedaruratan dapat disamakan dengan beberapa sinonimnya yang bukan saja serupa dengan crisis (gawat) tetapi juga mengenai :
1. Emergency (darurat) 6. Severe (parah)
2. Sudden (mendadak) 7. urgen (penting)
3. Immediately (segera) 8. Specific (khusus)
4. Temporary(sementara) 9. Luas (endemic)
5. treatened (membahayakan)
Suatu masalah kesehatan masyarakat dianggap bersifat darurat jika memp. Karakteristik berupa :
1. Mengenai masyarakat luas (musibah bersifat massal)
2. Memberikan gangguan berat (bencana)
3. Kejadiannya mendadak (acut)
4. Cenderung meluas (musibah demi musibah)
5. Memberikan dampak sosial dan a/ ekonomi
6. Perlu tindakan khusus segera (emergency)
Dapat mencakup ;
1. Musibah massal 10. Emergensi
2. Bencana alam (disaster) 11. Kriminal
3. Cidera/trauma (injury) 12. Kekeringan
4. Kecelakaan (accident) 13. Kelaparan
5. Kerusuhan (riot) 14. Perang (war)
6. Pembunuhan (homocide)
7. Bunuh diri (Suicide)
8. Perkelahian (fighting)
9. Wabah (outbreak) / Pandemi
Ditinjau dari segi kejadian epideminya, maka berbagai jenis kesehatan darurat dapat digolongkan ke dalam 4 bentuk
Terjadinya suatu krisis atau kedaruratan, dapat dilihat dari 3 sudut ;
1. Krisis terjadi sebagai perubahan mendadak mis ; krisis moneter, bencana alam
2. Krisis bisa merupakan perubahan terbalik mis ; pembangunan yang tdk jadi
3. Krisis bisa terbentuk sebagai akibat dari perubahan lingkungan yang mengubah keseimbangan alamiah
yang ada
Berbagai aspek kesehatan masyarakat yang dapat terkait dengan hal-hal yang menjadi bagian Epidemiologi Kesehatan Darurat adalah :
1. Surveilans (active morbidity/mortality survailance)
2. Riwayat perjalanan musibah (natural history of disaster)
3. Upaya preventif
4. Relief effort (rehabilitasi)
5. Perencanaan (health disaster planning)
6. Penelitian khusus
Dalam melakukan surveilans aktif, penyakit-penyakit yang perlu mendapat perhatian hendaknya memenuhi kriteria :
keadaan menjadi lebih buruk
Ruang lingkup kedaruratan dapat disamakan dengan beberapa sinonimnya yang bukan saja serupa dengan crisis (gawat) tetapi juga mengenai :
1. Emergency (darurat) 6. Severe (parah)
2. Sudden (mendadak) 7. urgen (penting)
3. Immediately (segera) 8. Specific (khusus)
4. Temporary(sementara) 9. Luas (endemic)
5. treatened (membahayakan)
Suatu masalah kesehatan masyarakat dianggap bersifat darurat jika memp. Karakteristik berupa :
1. Mengenai masyarakat luas (musibah bersifat massal)
2. Memberikan gangguan berat (bencana)
3. Kejadiannya mendadak (acut)
4. Cenderung meluas (musibah demi musibah)
5. Memberikan dampak sosial dan a/ ekonomi
6. Perlu tindakan khusus segera (emergency)
Dapat mencakup ;
1. Musibah massal 10. Emergensi
2. Bencana alam (disaster) 11. Kriminal
3. Cidera/trauma (injury) 12. Kekeringan
4. Kecelakaan (accident) 13. Kelaparan
5. Kerusuhan (riot) 14. Perang (war)
6. Pembunuhan (homocide)
7. Bunuh diri (Suicide)
8. Perkelahian (fighting)
9. Wabah (outbreak) / Pandemi
Ditinjau dari segi kejadian epideminya, maka berbagai jenis kesehatan darurat dapat digolongkan ke dalam 4 bentuk
- Letupan penyakit (Outbreak), dimana terjadi peningkatan jumlah penderita bila tidak ditangani dengan segera dapat menimbulkan kepanikan di masyarakat, bahkan sampai kematian.Outbreak merupakan bentuk kesehatan darurat yang klasik & masih prevalen
- Pandemi, yaitu terjadi penularan antar Negara karena penularan penyakit yang begitu besar. Pandemi yang luas mengenai dunia adalah pandemi AIDS & rokok
- Penyakit baru (new/emerging disease), dimana penyakit baru muncul dimana sebelumnya tidak pernah ada dan langsung menjadi ancaman. Atau sebelumnya tidak meresahkan kemudian berubah jadi ancaman.
- Kiamat- Kiamat kecil ;
kematian seseorang
- Kiamat pemerintahan ; runtuhnya suatu kekuasaan a/ pemerintahan
- Kiamat besar ; berakhirnya kehidupan di muka bumi
Terjadinya suatu krisis atau kedaruratan, dapat dilihat dari 3 sudut ;
1. Krisis terjadi sebagai perubahan mendadak mis ; krisis moneter, bencana alam
2. Krisis bisa merupakan perubahan terbalik mis ; pembangunan yang tdk jadi
3. Krisis bisa terbentuk sebagai akibat dari perubahan lingkungan yang mengubah keseimbangan alamiah
yang ada
Berbagai aspek kesehatan masyarakat yang dapat terkait dengan hal-hal yang menjadi bagian Epidemiologi Kesehatan Darurat adalah :
1. Surveilans (active morbidity/mortality survailance)
2. Riwayat perjalanan musibah (natural history of disaster)
3. Upaya preventif
4. Relief effort (rehabilitasi)
5. Perencanaan (health disaster planning)
6. Penelitian khusus
Dalam melakukan surveilans aktif, penyakit-penyakit yang perlu mendapat perhatian hendaknya memenuhi kriteria :
- mempunyai Kepentingan kesehatan masyarakat. Yg besar
- Mempunyai Endemisitas lokal atau berkaitan dengan fokus eksternal di daerah atau negara lain.
- Memberi risiko terjadinya penyakit baru yang memp potensi penularan lokal yang tidak diketahui.
- Immunitas yang rendah pada kelompok Manusia & binatang
- Terdapat populasi besar vektor & reservoir yang potensil
- Ekologi yang tidak umum (irigasi, deforestation), iklim (kering, banjir) & migrasi yang mendukung penularan
Keadaan
sebelum kejadian nampak bersifat laten, kemudian meledak, lalu menghilang. Berdasarkan
waktu kejadian (event), perjalanan masalah kesehatan darurat dapat dibagi atas tiga tatanan utama yang semuanya perlu
mendapat perhatian :
- Pre-event
- Event
- Post-event
• Selain
menghadapi masalah penyakit, post-event juga dibebani dengan berbagai masalah
bukan
penyakit, seperti sosial, ekonomi, politik & psikologi.
• Masalah-masalah
itu misalnya adalah pengungsian (refugees), kerusuhan (riot), kemiskinan,
gangguan
kejiwaan (kecemasan & kengerian)
kejiwaan (kecemasan & kengerian)
Peran Epidemiologi
- Mengidentifikasi masalah kesehatan yang sedang dihadapi oleh masyarakat
- Mengikuti masalah yang sedang berkembang dalam masyarakat kemungkinan epidemiologi bersifat dinamis sesuai dengan dinamika masyarakat yang di hadapi
- Menentukan kausa dari berbagai penyakit ataupun masalah yang terjadi ; tindakan pencegahan & penanggulangan
- Menemukan bentuk-bentuk intervensi untuk penanggu langan sampai eradikasi
Upaya-upaya yang dapat dilakukan
- Melakukan pencatatan & pelaporan (RR) dalan suatu sistem survailan
- Membuat desain penelitian untuk menganalisis penyebab masalaha yang terjadi
- Berbagai upaya pencegahan yg dp dilakukan u/ menghindari terjadinya epidemik
- Berbagai upaya intervensi berdasarkan konsep penanggulangan kesehatan darurat
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
suatu plan of action :
• Defenisi
initial case
• Hipotesis
dari keadaan & kecenderungan epidemik
• Tujuan
dari investigasi
• Bentuk
invcestigasi dan strategi pengendalian
• Penentuan
tanggung-jawab personal dari tim & penjadwalan penugasan
• Mobilisasi
internal & external resources
• Pengaturan
dukungan rumah sakit & laboratorium
Sebenarnya dalam penanganan
bencana setidaknya ada empat tahapan, yaitu :
• prevention
/ pencegahan
• preparednes/
kesiapsiagaan
• reaction
/ tanggap darurat
• recovery
/ pemulihan
• Saat
ini sepertinya masyarakat kita masih berfokus pada fase reaction atau tanggap
darurat, dimana
fokus penanganan bencana masih seputar pertolongan di saat terjadi bencana. Kondisi ini sudah cukup
bagus
fokus penanganan bencana masih seputar pertolongan di saat terjadi bencana. Kondisi ini sudah cukup
bagus
• Recovery
lokasi bencana juga sudah banyak dilakukan terutama oleh pemerintah dan
keterlibatan LSM
baik dalam dan luar negeri.
baik dalam dan luar negeri.
• Pencegahan
dan persiapan bencana memerlukan keterlibatan banyak sektor. Pada fase ini
termasuk
diantaranya pelatihan penanggulangan bencana, mitigasi bencana, pembuatan kontigensi plan, persiapan
team bencana, dan sebagainya.
diantaranya pelatihan penanggulangan bencana, mitigasi bencana, pembuatan kontigensi plan, persiapan
team bencana, dan sebagainya.
• Peran
perawat dalam kesiapsiagaan bencana juga sangat berperan diantaranya persiapan
team, pelatihan
sampai ke simulasi penanganan bencana baik yang bersekala “bencana kecil” maupun bencana
sesungguhnya yang berskala besar.
sampai ke simulasi penanganan bencana baik yang bersekala “bencana kecil” maupun bencana
sesungguhnya yang berskala besar.
REFERENSI
1.
…………., 1994. Pedoman Pengamatan dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Direktorat Epidemiologi
dan Imunisasi, Direktorat Jenderal PPM-PLP, Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Hal.
2.
Bustan, M. N. 2000. Epidemiologi Kesehatan
Darurat. FKM. Unhas. Makassar. Hal. 2-130
3.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi.
Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 84-105
4.
Friedman, Gary D. 1986. Prinsip-prinsip
Epidemiologi, Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta. Hal. 295-317.
5.
Nur Nasry Noor, Bahan kuliah Epidemiologi Dasar.
FKM. Unhas.
6.
Ridwan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat
Surveilans Epidermiologi Sebuah Pengantar. FKM-UNHAS. Hal. 50-59
7.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
8.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
9.
Sutrisna, Bambang. 1986. Pengantar Metoda
Epidemiologi. PT. Dian Rakyat. Jakarta. Hal. 22-33
10.
Wahyudin Rajab, M.Epid. Buku Ajar Epidemiologi
untuk Mahasiswa Kebidanan, EGC. Jakarta
METODA EPIDEMIOLOGI KEPERW
METODA EPIDEMIOLOGI
POKO BAHASAN
-
Surveylans
epidemiologi
-
Survey observasi
-
Experiment
A. SURVEYLANS EPIDEMIOLOGI
SURVEILANS adalah Kewaspadaan & kegiatan mengamati timbul dan penyebaran
penyakit beserta
faktor-faktor yang mempengaruhi pada masyarakat, secara :
faktor-faktor yang mempengaruhi pada masyarakat, secara :
- Terus menerus
-
Tepat & menyeluruh
dengan tujuan untuk mengetahui :
Bagaimana epidemiologi & berapa besar
masalah penyakit di masyarakat, berguna untuk :
Informasi yang up to date mengenai penyakit, untuk :
1. Monitor program yang sedang berjalan
2. Evaluasi hasil program
3. Sistem Kewaspadaan Dini
Dengan demikian, surveilans memantau semua aspek yang berkaitan dengan kemungkinan timbulnya dan menyebarnya penyakit di masyarakat secara terus menerus sepanjang waktu. Bila hasil pemantauan tersebut diolah dengan baik akan diperoleh gambaran kejadian suatu penyakit dan pola penyebarannya pada suatu populasi. Hasil ini akan sangat berguna untuk pengendalian penyakit yang sama selanjutnya.
- Program yang sudah berjalan yang diarahkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat
dimonitoring, apakah berjalan dengan baik atau belum.
- Setiap kegiatan yang sudah selesai dijalankan dapat dilakukan evaluasi dengan melihat perkembangan
kejadian penyakit di masyarakat.
- Bila suatu penyakit sudah diketahui pada kondisi mana akan terjadi peningkatan jumlah penderita, maka
hasil dari surveilans dapat dijadikan sebagai dasar untuk sistem kewaspadaan dini.
1. Monitor program yang sedang berjalan
2. Evaluasi hasil program
3. Sistem Kewaspadaan Dini
Dengan demikian, surveilans memantau semua aspek yang berkaitan dengan kemungkinan timbulnya dan menyebarnya penyakit di masyarakat secara terus menerus sepanjang waktu. Bila hasil pemantauan tersebut diolah dengan baik akan diperoleh gambaran kejadian suatu penyakit dan pola penyebarannya pada suatu populasi. Hasil ini akan sangat berguna untuk pengendalian penyakit yang sama selanjutnya.
- Program yang sudah berjalan yang diarahkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat
dimonitoring, apakah berjalan dengan baik atau belum.
- Setiap kegiatan yang sudah selesai dijalankan dapat dilakukan evaluasi dengan melihat perkembangan
kejadian penyakit di masyarakat.
- Bila suatu penyakit sudah diketahui pada kondisi mana akan terjadi peningkatan jumlah penderita, maka
hasil dari surveilans dapat dijadikan sebagai dasar untuk sistem kewaspadaan dini.
TUJUAN SUEVEILANS
A. TUJUAN UMUM
Diperoleh
informasi epidemiologi penyakit tertentu & terdistribusinya informasi
tersebut kepada :
-
Program terkait
- Pusat
penelitian / kajian
- Unit
surveilans lain
B. Tujuan Khusus
- Terkumpulnya data kesakitan, laboratorium, KLB & keracunan
- Terdistribusinya data kepada jenjang unit surv
- Terlaksananya pengolahan & penyajian Data & analisis epidemiologi lebih lanjut
- Terdistribusinya hasail pengolahan dan penyajian data beserta analisis epidemiologi
Manfaat Surveilans
- Perencanaan program pemberantasan penyakit
- Evaluasi program pemberan tasan penyakit
- Penanggulangan KLB
• Tujuan pengumpulan data
untuk menentukan :
untuk menentukan :
- Melompok/golongan populasi yang mempunyai risiko terbesar untuk terserang penyakit
- Jenis dari agent & karakteristiknya
- Reservoir dari infeksi
- Keadaan bagaimana transmisi dapat berlangsung
- Kejadian penyakit secara keseluruhan
- Sifat dari wabah (sumber, cara, dsb)
• Jenis data yang dibutuhkan untuk menyediakan
informasi tersebut. Dapat dipikirkan dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut :
• APA ; yang menjadi masalah
pertanyaan-pertanyaan berikut :
• APA ; yang menjadi masalah
•
SIAPA ; yang terkena, distribusinya menurut umur,
jenis kelamin, pekerjaan, penduduk, dsb.
•
DIMANA ; masalah itu terjadi menurut tempat tinggal, tempat
kerja, dsb
•
KAPAN ; masalah itu terjadi menurut hari, bulan,
musim, dsb.
•
BAGAIMANA ; masalah itu terjadi. Keadaan khusus,
vektor, sumber penularan, kelompok
rentan, faktor-faktor penentu lain
rentan, faktor-faktor penentu lain
•
MENGAPA ; masalah itu terjadi, mengapa masih
berlanjut terus ?
•
LALU APA ; tinkan intervensi intervensi yang telah
dilakukan berdasarkan informasi yang ada, &
bagaimana keberhasilannya.
bagaimana keberhasilannya.
•
SYARAT DATA
:
- Dipercaya - Reliable
- Nyata - Factual
- Cermat - Accurate
- Tepat waktu - Up to Date
- Lengkap - Complete
- Sesuai kebutuhan - Relevant
- Sah/masih berlaku- Valid
B. SURVEY OBSERVASI
Study Observational dikenal 3 cara :
- Study prospektive (cari penyebab) dikirim kemudian diperiksa (=kohor=longitudinal)
- Study Restrospektive (cari akibat) dari penyakit cari penyebab (Case control)
- Study Cross Sectional datang kemudian cari org sakit (1+2)
C. EXPERIMENT
Dikenal 3 methode
- Memakai percobaan dg binatang
- Metoda simulasi
- Percobaan pada manusia
REFERENSI
1.
…………., 1994. Pedoman Pengamatan dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Direktorat Epidemiologi
dan Imunisasi, Direktorat Jenderal PPM-PLP, Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Hal.
2.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi.
Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 84-105
3.
Nur Nasry Noor, Bahan kuliah Epidemiologi Dasar.
FKM. Unhas.
4.
Ridwan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat
Surveilans Epidermiologi Sebuah Pengantar. FKM-UNHAS. Hal. 50-59
5.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
6.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
7.
Sutrisna, Bambang. 1986. Pengantar Metoda
Epidemiologi. PT. Dian Rakyat. Jakarta. Hal. 22-33
Wahyudin Rajab, M.Epid. Buku Ajar Epidemiologi untuk
Mahasiswa Kebidanan, EGC. Jakarta
FREKWENSI PENYAKIT KEPERW
FREKWENSI
PENYAKIT
D-III
D-III
POKOK BAHASAN
- Rate, Ratio, Proporsi
- Rate, Ratio, Proporsi
-
Incidence Prevalence
• PERHITUNGAN FREKWENSI PENYAKIT ( S1 )
- Nilai Rate, Rato & Proporsi
- Nilai Rate yg berhubungan dg Penyk, K’mati’, Reproduksi, Nilai Rate Khusus
- Insidensi, Prevalensi, Risk angka serangan & Yg Bertalian
1. Arti & Kegunaan Frekwensi Penyakit
•
Dimaksudkan untuk Menilai keadaan penyakit
pada suatu Populasi atau Sub Populasi tertentu.
•
Penggunaan nilai Absolut sering menimbul
kan kesalahan penilaian, terutama bila membandingkan
keadaan penyakit pada lebih dari 1 atau beberapa kelompok populasi (kelompok penduduk).
keadaan penyakit pada lebih dari 1 atau beberapa kelompok populasi (kelompok penduduk).
•
Harus mengerti penggunaan nilai rate,ratio
& proporsi
Ratio (a/b)
•
Dapat diartikan sebagai di bandingkan dengan
•
Perbandingan antara 2 hal & tidak mutlak ada
hubungan
•
Merupakan perbandingan antara 2 kwantitas
-
Kwantitas pembilang ; Nominator
-
Kwantitas penyebut ; Denominator
•
Jika pembilang bagian dari penyebut disebut Proporsi
•
Jarang digunakan kecuali pada beberpa hal khusus. Seperti ; Sex ratio, ratio
mortalitas yang
distandarisasi (SMR), dll.
distandarisasi (SMR), dll.
Rate : a/(a+b) x k, Wkt
ttt
•
Adalah besarnya peristiwa yang terjadi terhadap
jumlah total penduduk tempat peristiwa berlangsung
dalam batas waktu tertentu
dalam batas waktu tertentu
•
Adalah Ratio yang pembilangnya merupakan bagian dari
penyebut & merupakan hasil pengumpulan
data dalam 1 (satu) periode waktu, sedangkan penyebutnya hasil perhitungan
data dalam 1 (satu) periode waktu, sedangkan penyebutnya hasil perhitungan
Incidence Rate
•
Jumlah kasus baru yang timbul dibagi dengan jumlah
penduduk
Manfaat ;
- Pengamatan & rencana penanggulangan penyakit dp dilihat
- Potret masalah penduduk
- Kecenderungan & frekwensi penyakit dapat dipantau
- Pemanatauan & Evaluasi untuk pencegahan & penanggulangan Penyakit
- Untuk perbandingan angka antar waktu & wilayah
Yang Pelu Diperhatikan dari Incidens
•
Penyebut adalah mereka yang terancam (risk) penyakit
tertentu, berdasarkan waktu
•
Pembilang adalah mereka yang menderita dan semuanya
berasal dari mereka yang terancam penyakit
tersebut.
tersebut.
•
Interval waktu harus tetap.
•
Hasilnya dapat dikalikan dengan unit tertentu (100, 1000, dst)
- Sangat berguna dalam Epidemilogi Deskriptip uuntuk menerangkan/menentukan mereka atau kelompok penduduk yang menderita atau terancam (risk). Sehingga dapat digunakan sebagai dasar program pencegahan & penanggulangan
Insidensi Rate diperlukan Untuk
- Membandingkan perkembangan penyakit pada populasi atau kelompok yang berbeda atau pada periode yang berbeda.
- Mencari etiologi dari suatu penyakit
Prevalence
•
Merupakan ukuran tentang jumlah atau proporsi dari kasus
atau masalah kesehatan pada suatu populasi
tertentu.
tertentu.
•
Prevalence Rate (PR) menunjukkan proporsi person yang mempunyai
penyakit tertentu pada suatu titik
waktu tertentu atau suatu periode waktu tertentu pada populasi yang diamati. Karena itu dikenal 2 (dua)
macam PR ;
waktu tertentu atau suatu periode waktu tertentu pada populasi yang diamati. Karena itu dikenal 2 (dua)
macam PR ;
a.
Point Prevalence Rate
b.
Period Prevalence Rate
a. Point Prevalence Rate
•
Adalah jumlah mereka yang masih sakit pada satu waktu
tertentu.
•
Biasanya nilai hasil pengamatan atau survei pada
satu waktu tertentu.
•
Nilai ini sangat erat hubungannya
•
Merupakan data penyakit yang serupa dengan sensus.
Menggambarkan jumlah penderita yang ada
pada suatu waktu
pada suatu waktu
•
Adalah proporsi dari penduduk yang sakit pada waktu
tersebut.
•
Pembilangnya terdiri atass semua orang yang sakit
tanpa dibedakan kapan mulai sakit
•
Penyebutnya jumlah penduduk yang diperiksa baik yang sakit
maupun sehat.
b. Period Prevalence Rate
•
Menunjukkan jumlah penderita pada 1 (satu) periode waktu
•
Adalah jumlah tersebut dibagi satuan penduduk yang
diperiksa
•
Sangat jarang digunakan sehingga disamakan dengan Point
Prevalens. Rate
•
Berguna bagi administrator Yankes (Pelayanan Kesehatan) untuk
merencanakan perencanaan
kesehatan yang sesuai dengan populasi tersebut.
kesehatan yang sesuai dengan populasi tersebut.
Inciednce X Prevalence
•
Inc ; jlh kejadian a/ peristiwa penyakit yg tjd
dl periode ttt diandingkan dg jl penddk.
•
Pre ; jlh individu yg pd saat ttt memiliki ciri
penyakit ttt dibanding dg jlh penduduk
Ø Inc
lebih menjelaskan ttg derajat penularan penyakit
Ø Pre
lebih menjelaskan ttg beban upaya pe layanan kesehatan
Attack Rate
•
Adalah Inciddens Rate yang periodenya terbatas
•
Attack Rate penting dalam penelitian-penelitian penyakit menular
•
Risiko untuk menderita penyakit berlangsung dalam waktu
singkat
= Jlh Kasus : Pop at Risk (selama epidemi)
Secondary Attack Rate (Angka Serangan II)
= Jlh Kasus Secunder : Pop At Risk
•
Proporsi ; a/(a+b) x k
•
Merupakan perbandingan dimana pembilang merupakan
bagian penyebut
•
Merupakan perbandingan mirip rate tetapi dasarnya
bukan jumlah penduduk tetapi jumlah semua
yang mengalami peristiwa yang sejenis
yang mengalami peristiwa yang sejenis
•
2. Hubungan & Kegunaan Prev & Inc
•
Point Prev ;
Sensus & survei
•
Incidense ;
Penelitian
•
Nilai PP
tgt ; - Incidence
- Beratnya Penyakit
- Efektifitas pengobatan
•
Hub Prev, Inc & Periode Wkt
- Penyk
Kronis : Durasi Inc
- Penyk
Akut : D Inc
•
Bila Inc & Prev tetap : P = D X I
•
Case Fataliti Rate
=
A.
REFERENSI
1.
…………., 1994. Pedoman Pengamatan dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Direktorat Epidemiologi
dan Imunisasi, Direktorat Jenderal PPM-PLP, Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Hal.
2.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi.
Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 84-105
3.
Friedman, Gary D. 1986. Prinsip-prinsip
Epidemiologi, Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta. Hal.
4.
Nur Nasry
Noor, Bahan kuliah Epidemiologi Dasar. FKM. Unhas.
5.
Ridwan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat
Surveilans Epidermiologi Sebuah Pengantar. FKM-UNHAS. Hal. 50-59
6.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
7.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
8.
Sutrisna, Bambang. 1986. Pengantar Metoda Epidemiologi.
PT. Dian Rakyat. Jakarta. Hal. 22-33
9.
Wahyudin Rajab, M.Epid. Buku Ajar Epidemiologi
untuk Mahasiswa Kebidanan, EGC. Jakarta
PERUBAHAN & PERKEMBANGAN POLA PENYK KEPERW
PERUBAHAN
& PERKEMBANGAN
POLA PENYAKIT
POLA PENYAKIT
POKOK BAHASAN
- Hubungan Sebab Akibat pola Penyakit dng W, T & O
- Hubungan Sebab Akibat pola Penyakit dng W, T & O
- Klasifikasi Penyakitt
- Tingkatan
Pencegaha Penyakit
A. HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
TRIAS EPIDEMIOLOGI (Segi Tiga Epidemiologi)
A. HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
TRIAS EPIDEMIOLOGI (Segi Tiga Epidemiologi)
• Model Host-Agent-Environment
Faktor Host (tuan rumah, pejamu) Adalah manusia atau mahluk hidup lainnya, yang
menjadi tempat
terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit, dapat berupa ;
terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit, dapat berupa ;
-
umur,
- jenis kelamin, - ras,
-
status gizi, - Anatomi tubuh, - etnik
-
Keadaan fisiologi tubuh : lelah, hamil, strees,
pubertas, keadaan gizi
-
Keadaan Immunologis : antibodi dari ibu, vaksinasi,
ada infeksi sebelumnya
-
Tingkah laku (behavior) : life style, personal
hygiene, hubungan antar pribadi, rekreasi
• Karakteristik Host ;
a. Resistensi ; kemampuan host bertahan terhadap suatu penyakit.
b. Immunitas ; kesanggupan host mengembangkan suatu respon immunologis (alamiah, buatan)
sehingga tubuh kebal pada penyakit tertentu.
c. Infectiousness ; potensi host yg terinfeksi untuk menularkan pada orang lain, baik sakit maupun sehat.
a. Resistensi ; kemampuan host bertahan terhadap suatu penyakit.
b. Immunitas ; kesanggupan host mengembangkan suatu respon immunologis (alamiah, buatan)
sehingga tubuh kebal pada penyakit tertentu.
c. Infectiousness ; potensi host yg terinfeksi untuk menularkan pada orang lain, baik sakit maupun sehat.
Faktor Agent ; adalah suatu unsur (organisma hidup atau kuman infektif)
yang dapat menyebabkan
terjadinya suatu penyakit. Pada penyakit tertentu dapat single kausa (infeksi) & multi kausa
(non-infeksi), dapat berupa :
terjadinya suatu penyakit. Pada penyakit tertentu dapat single kausa (infeksi) & multi kausa
(non-infeksi), dapat berupa :
• Karakteristik Agent :
a. Invasitas : kemampuan agent untuk melakukan penetrasi & menyebar setelah memasuki jaringan
b. Infektifitas : kesanggupan agent untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dari host untuk tinggal
& berkembang biak (multiply) dalam jaringan host
c. Patogenitas : kesanggupan agent untuk menimbulkan reaksi klinis yang patologis setelah terjadi
infeksi pada host yang diserang
d. Virulensi : kesanggupan agent menimbulkan reaksi patologis berat yang mungkin hingga
menyebabkan kematian.
e. Toksisitas : kesanggupan agent untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis oleh substansi kimia
yang dibuatnya
f. Antigenitas : kesanggupan agent untuk merangsang reaksi immunologis dalam host
a. Invasitas : kemampuan agent untuk melakukan penetrasi & menyebar setelah memasuki jaringan
b. Infektifitas : kesanggupan agent untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dari host untuk tinggal
& berkembang biak (multiply) dalam jaringan host
c. Patogenitas : kesanggupan agent untuk menimbulkan reaksi klinis yang patologis setelah terjadi
infeksi pada host yang diserang
d. Virulensi : kesanggupan agent menimbulkan reaksi patologis berat yang mungkin hingga
menyebabkan kematian.
e. Toksisitas : kesanggupan agent untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis oleh substansi kimia
yang dibuatnya
f. Antigenitas : kesanggupan agent untuk merangsang reaksi immunologis dalam host
• Agent Biologis dapat berupa
1. Metazoa : cacing
2. Protozoz : amoeba, malaria
3. Bakteri : sipilis, typhoid, tbc, pneumonia
4. Fungi : Histoplasmosis, taenia pedis
5. Rickettsia : Rocky mountain spotted fever
6. Virus : campak, cacar (smallpox), polio-
1. Metazoa : cacing
2. Protozoz : amoeba, malaria
3. Bakteri : sipilis, typhoid, tbc, pneumonia
4. Fungi : Histoplasmosis, taenia pedis
5. Rickettsia : Rocky mountain spotted fever
6. Virus : campak, cacar (smallpox), polio-
• Lingkungan ; adalah semua faktor luar dari suatu
individu. Dapat berupa Lingkungan. fisik, biologis,
sosial
1. Fisik : geologi, iklim, geografik
2. Biologis : kepadatan penduduk, flora (sbg sbr makanan), fauna (sbg sbr protein
3. Sosial : migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, perumahan, kekacauan, bencana alam, perang, banjir.
sosial
1. Fisik : geologi, iklim, geografik
2. Biologis : kepadatan penduduk, flora (sbg sbr makanan), fauna (sbg sbr protein
3. Sosial : migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, perumahan, kekacauan, bencana alam, perang, banjir.
• Karakteristik Environment
a. Topografi ; situasi lokasi tertentu, baik yang natural maupun buatan yang mungkin mempengaruhi
terjadinya & penyebaran suatu penyakit tertentu.
b. Geografi ; keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dari bumi yang berhubungan dengan
kejadian penyakit
a. Topografi ; situasi lokasi tertentu, baik yang natural maupun buatan yang mungkin mempengaruhi
terjadinya & penyebaran suatu penyakit tertentu.
b. Geografi ; keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dari bumi yang berhubungan dengan
kejadian penyakit
• PERSON, PLACE & TIME
• Informasi PPT berguna untuk menggambarkan adanya
perbedaan dl keterpaparan dan susceptibilitas.
• Perbedaan ini akan dp dipakai sbg :
–
petunjuk ttg sumber,
–
agent yang bertanggung jawab,
–
transmisi dan
–
penyebaran
suatu penyakit
1. person Adalah karakteristik individu yang mempengaruhi
keterpaparan yang mereka dapatkan &
susceptibilitasnya terhadap penyakit
susceptibilitasnya terhadap penyakit
2. Place Memberikian petunjuk pola perbedaan penyakit yang dapat
menjadi pegangan dalam mencari
faktor lain yang belum diketahui. Dapat berupa ; blok, RT/RK, Kota, Desa, ……..
faktor lain yang belum diketahui. Dapat berupa ; blok, RT/RK, Kota, Desa, ……..
3. Time Dapat menjadi pedoman tentang kejadian yang ada dalam
masyarakat.
Dl setahun banyak kelahiran ;
–
Banyak perkawinan
–
Banyak perceraian
–
Banyak anak yg diinginkan
–
Keadaan ekonomi
–
Migrasi, dll
B. KLASIFIKASIN PENYAKIT
Klasifikasi Penyakit Menurut ICD (International
Classification of Diseases = Klasifikasi
International Penyakit)
International Penyakit)
- Penyakit Infeksi & Parasit
- Neoplasma
- Penyk. Endokrin, Nutrisi & Metabolik, & Gangguan Imunitas
- Pnyk. Darah & Organ Pembentuk Darah
- Gangguan Mental
- Penyk. Sistem Saraf & Alat Indra
- Penyk. Sistem Peredaran Darah
- Penyk. Sistem Pernapasan
- Penyk. Sistem Pencernaan
- Penyk. Sistem Kencing & Kelamin
- Komplikasi Kehamilan, Persalin” & Nipas Penyk.
- Kulit & Jaringan Bawah Kulit Penyk.
- Sistem Otot Rangka & Jrg. Ikat
- Kelainan Bawaan
- Keadaan Ttt yg berasal dr ms Perinatal Gejala, Tanda & Keadaan tdk Jelas
- Cedera & Keracunan
TINGKATA PENCCEGAHAN
Contoh Upaya Pencegahan
1. Premordial
• Memberikan kondisi pada masyarakat yg memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dasar
dari kebiasaan, gaya hidup & faktor risiko lainnya.
• Prakondisi harus diciptakan dengan multimitra
• Mis. rokok
1. Premordial
• Memberikan kondisi pada masyarakat yg memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dasar
dari kebiasaan, gaya hidup & faktor risiko lainnya.
• Prakondisi harus diciptakan dengan multimitra
• Mis. rokok
2. Health Promotion
- Kebersihan pribadi / lingkungan
- Makanan bergizi
- Peningkatan kesehatan
•
Tindakan sehat
•
Kondisi kerja yang baik
•
Harmonisasi keluarga
•
Rekreasi
3. Specyfic Protection
•
Imunisasi
•
Kebersihan Perorangan & lingkungan
•
Perlindungan bahaya bahan-2 dalam pekerjaan
•
Pencegahan Lakalantas
•
Pembedaan bahan-bahan khusus
4. Early Diagnosis & Promt Treatment
•
Usaha Case Finding ; mencari kasus sedi- ni
mungkin
•
Screening
•
Survay selective
•
Pengobatan teratur
•
General chek Up
5. Disability Limitation
•
Pengobatan yang tepat
•
Mencegah terjadinya komplikasi
•
Penyediaan fasilitas-fasilitas
6. Rehabilitation
•
Penyediaan sarana latihan bagi yg cacat
•
Penyuluhan memberi semangat bagi pengguna
fasilitas.
REFERENSI
1.
…………., 1994. Pedoman Pengamatan dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia. Direktorat Epidemiologi
dan Imunisasi, Direktorat Jenderal PPM-PLP, Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Hal.
2.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi.
Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 84-105
3.
Nur Nasry Noor, Bahan kuliah Epidemiologi Dasar.
FKM. Unhas.
4.
Ridwan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat
Surveilans Epidermiologi Sebuah Pengantar. FKM-UNHAS. Hal. 50-59
5.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
6.
Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta. Bandung. Hal.
7. Sutrisna, Bambang. 1986. Pengantar Metoda
Epidemiologi. PT. Dian Rakyat. Jakarta. Hal. 22-33
8. Wahyudin Rajab, M.Epid. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan, EGC. Jakarta
8. Wahyudin Rajab, M.Epid. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan, EGC. Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)